Perempuan Masuk Jurusan Teknik Cybercrime?

Jurusan STEM untuk perempuan

Cybercriminals, seperti halnya virus, beradaptasi dengan lingkungannya.

Tahukah kamu? Sejak pandemi virus korona dimulai, keluhan keamanan siber ke Pusat Keluhan Kejahatan Internet FBI meningkat empat kali lipat. Apalagi sekarang semua pakai daring ya? Belanja, kerja, belajar pokoknya semua online. Masalahnya, kejahatan siber kian banyak macamnya. Ada yang sekedar melakukan bullying, mencuri data, penipuan, sampai ada yang mampu menguras uang. Waduh, bahaya banget kan? Itu kenapa sekarang juga ada tim yang menjadi polisi online . 

Dulu, perempuan kurang terlibat dalam perkembangan teknologi IT

Cybercrime telah ada jauh sebelumnya dan akan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Khususnya  kejahatan dunia maya yang menargetkan wanita dan anak-anak. Mari kita lihat internet of things, misalnya. IoT dikembangkan sebagian besar tanpa masukan dari perempuan dalam posisi kepemimpinan. Di antara perusahaan teknologi besar AS, seperti Amazon, Google, Facebook, Apple, dan Microsoft,  tidak ada yang memiliki lebih dari 32 persen perempuan dalam peran kepemimpinan. Akibatnya, IoT tidak memiliki komponen keamanan dan keselamatan yang sering kali menjadi perhatian utama wanita. Wah padahal cewek juga jago kan?

Lowongan untuk lulusan STEM makin meroket, para perempuan mulai maju

Pada 2018, National Association of Manufacturing dan Deloitte melaporkan bahwa dari 3,5 juta pekerjaan STEM yang harus diisi AS pada tahun 2025, 2 juta tidak akan terisi karena kurangnya pekerja yang memenuhi syarat. Setengah dari semua pekerja STEM di Amerika Serikat secara keseluruhan adalah perempuan, namun sangat bervariasi di berbagai bidang dan tingkat pendidikan. Yakni 75 persen bekerja di bidang kesehatan, tetapi hanya 14 persen di bidang teknik. 

Salah satu solusi untuk kekurangan pekerja terampil dan untuk mempertimbangkan apa yang dibutuhkan wanita dan anak-anak saat mengembangkan teknologi adalah dengan membawa lebih banyak wanita ke posisi kepemimpinan cybersecurity. Jadi, sudah saatnya untuk mulai mendidik anak perempuan di usia muda untuk menjadi pemimpin keamanan siber masa depan. 

Pada tahun 2017 Girl Scouts berjanji untuk menambah 2,5 juta anak perempuan ke tenaga kerja STEM pada tahun 2025. Tahun berikutnya, mereka berkolaborasi dengan Palo Alto Networks untuk memperkenalkan lencana keamanan siber kepada anak perempuan di kelas K–12 (TK hinga Kelas 12), dan pada tahun 2019 berkolaborasi dengan Raytheon Technologies untuk menjadi tuan rumah pertama Tantangan Cyber ​​untuk perempuan sekolah menengah dan atas — program yang berlanjut hingga hari ini. Hingga saat ini, lebih dari 150.000 lencana keamanan siber dan lebih dari 1 juta lencana STEM telah diperoleh oleh para perempuan di seluruh negeri.

Saat perempuan belajar dunia maya, efek domino pun terjadi. Misalnya, mereka dapat membantu orang lain yang tidak terbiasa dengan teknologi. Suatu kebanggaan ketika memikirkan seorang perempuan yang setelah dia mempelajari keterampilan ini, menyadari bahwa kurangnya pemahaman mengenai ini akan beresiko langsung pada hilangnya tabungan neneknya. Jadi mereka akan pergi ke Senior Center untuk membantu orang yang lebih tua memahami dasar-dasar keamanan siber dan mempelajari cara untuk melindungi diri mereka sendiri, dari perlindungan kata sandi hingga mengenali penipuan phishing.

Maka dibutuhkan orang tua yang memotivasi putrinya untuk mengeksplorasi minat mereka pada mata pelajaran terkait STEM, juga guru-guru untuk mengembangkan cara-cara kreatif untuk melibatkan siswa perempuan dalam pembelajaran ilmiah, serta perusahaan yang menerapkan program bimbingan sehingga perempuan muda dapat mengembangkan keterampilan dan minat mereka terhadap keamanan siber. Bagaimana, apakah kamu juga berminat untuk mempelajari dunia teknik?

Kalau kamu pengen banget dapat info soal jurusan STEM atau masuk dalam jurusan IT ini, boleh nih gabung dalam :

TOP MAJORS ONLINE EDU FAIR 2020